Opa… Pahlawan Doaku
Mungkin inilah yang kulihat mengapa keluargaku kuat walaupun cobaan begitu banyak.
Itu karena DOA!
Aku masih ingat , karena setiap libur sekolah, aku selalu berlibur di rumah Oma dan Opaku di Mlang, rumah tua yang sangat indah, bukan hanya secara fisik, namun juga karena begitu banyak kenangan indah di sana.
Ada kebiasaan Opa yang tak pernah kulupakan hingga saat ini. Opaku adalah pekerja kerasa dan teladan hidup yang paling berpengaruh dalam hidupku. Dia sungguh pria luar biasa! Aku selalu ingat sehabis pulang bekerja, Opa selalu menyempatkan diri rehat sebentar sebelum dia pergi mandi. Selesai mandi…. apa yang dia lakukan??
Berjam - jam, aku selalu mengunggu di balik pintu kamar ( karena kamarku dan kamar Opa Oma bersebrangan), aku melihat Opa selalu melipat tangannya menundukan kepala, dia BERDOA SYAFAAT selam berjam - jam!! kadang aku mendengar suaranya lirih, dia selalu menyebutkan nama anak - anaknya satu persatu, kemudian cucunya dengan segala pergumulan mereka, teman - temannya, saudara - saudaranya, baru yang terakhir pergumulan pribadinya.
Doa itu besar kuasanya!
Teman - teman membayangkan seperti apakah kira - kira Opaku? Apakah kalau begitu dia pria luar biasa? Ditenga segala kelemahannya, ya, dia teladan luar biasa. Ibuku bilang, dia mulai dari nol. Dia pekerja keras luara biasa, sampai dia mampu mendirikan sebuah pabrik, bukan pabrik besar, tapi dia mebawahi beberapa karyawan, tapi dia dapat bergaul dari tingkat atas sampai paling bawah.
Dia berusaha menjalankan Injil sebaik - baiknya. Opa tidak pernah membedakan mereka yang lemah, miskin dan kaya, dia dapat bergaul dari tingkat sopir hingga teman - temannya di Rotary Club. Dia seorang perfeksionis, aku ingat akan keterlibatannya dalm pembangunan perluasan gereja, walaupundia sibuk, tapi dia perhatian penuh, bahkan dapat memeriksa gambar blue printnya hingga berjam - jam.Dia belajar lintas ilmu, mulai kedokteran hingga arsitektur.
Aku masih ingat bukunya berrak - rak, hingga berdebu. Dari antara semua buku, ada 1 buku yang selalu dibuka setiap hari. Buku itu tak lain adalah Alkitab.
Kalau dibandingkan Opa, aku sungguh malu. Secara jujur, aku sering jadi pemalas dalam membuka Alkitab .Aku sering bolong dalam doa syafaat. Aku harus bisa seperti Opa, karena aku sudah melihat hasilnya, kekuatan doa itu menjadi benteng yang teguh dalam keluargaku.

Tinggalkan Balasan