The Presence of Absence

Bagi seorang arsitek, atau seseorang yang pernah mengenyam pendidikan di dunia arsitektur pastilah tak asing dengan ungkapan di atas , sebuah filosofi yang mendasari pemikiran Arsitektur Dekonstruksi yang dipopulerkan oleh Jaques Derrida, filosof yang menuliskan tentang de grammatologie, yang pemikirannya membalikan segenap pemikiran – pemikiran dan filosofi era Modern.

Sebagai seorang pelajar , agaknya kita sering kesulitan apa yang dimaksud dengan Derrida dan bagaimana kita harus mencerna akan makna tulisannya.

Sebuah obrolan siang hari membuat saya dan teman – teman akademisi mencelikan saya akan tulisan derrida, yang walau saya yakin, ilustrasi ini tidak sepenuhnya tepat untuk memahami benar filosofi derrida. tetapi yang menarik adalah… mungkin di masa kini memang semakin banyak dari kita bersikap hadir ( presence ) namun sesungguhnya tidak hadir ( absence ).

Siang hari itu saya ” ngrumpi” tentangĀ  salah seorang asisten pengajar di studio kami yang memang secara fisik kehadirannya bisa dirasakan di tengah – tengah studio mahasiswa namun sesungguhnya dia tidak benar – benar hadir. Dia ada tetapi tidak ” ada ” untuk menyelami masalah – masalah yang berkaitan dengan konteks soal, problem, dan inti dari studio.

Muncullah gagasan kita untuk menjuluki beliau sebagai tutor yang “presence ” teetapi absence.

Pagi hari ini saya mendapatkan sebuah telpon dari teman sepelayanan saya yang cukup membuat saya geregetan. Sebuah tugas pelayanan gerejawi yang seharusnya dia lakukan berpuluh tahun lalu, tapi ” digeletakkan ” begitu saja dengan hasil nihil dan tanpa rasa bersalah.

Saudara, yesus hadir di tengah – tengah kita adalah dia sungguh – sungguh HADIR, bukan presence of absence. Dia hadir dan sifatĀ  kehadirannya sungguh – sungguh ada dan bekerja dalam setiap hidup kita.

Sebagai seorang hamba, sudah sepantasnya kita malu bila sikap pelayanan kita sebagai pelayan gerejawi adalah : presence of absence , karena kita malu dengan pendeta, saya sekedar setor muka di gereja, ataukan kita hanya sekedar memenuhi kewajiban ibadah kita, tetapi hati kita tidak berada di sana.

Allah tidak menghendaki kehadiran kita the presence of absence, melainkan sungguh pelayanan kita adalah benar : Persembahkanlah Tubuhmu sebagai persembahan yang hidup dan berkenan kepada Allah dan itu adalah ibadahmu yang sejati..Roma 12 : 1

~ oleh Christine Wonoseputro pada Desember 1, 2011.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.