Sedikit berarti Banyak
Obrolan siang hari ini berlangsung di dalam mobil, saat kami bertiga pulang dari CITO menuju ke kampus tempatku bekerja sepulang dari makan siang.
Dalam mobil,kami tercegat oleh lampu merah. Dan seperti biasanya, aku berhenti.
Di sebelahku ada angkot yang penuh dengan penumpang, depannya lagi sebuah mobil BMW hitam mengkilap seri 7 kelihatannya masih baru, beberapa sepeda motor, Toyota butut, Mercedes C 300 tahun 90an, penjaja aqua botol, dan anak – anak jalanan yang siang itu mengamen.
Obrolan kami berpindah ke masalah rumah tangga, biasa kami ber3 adalah ibu – ibu semua. Topik kami siang itu adalah komplain masalah PRT yang bekerja di rumah kami masing – masing. Temanku bercerita ,” Pembantuku habis kumarahi, sudah 3 tahun bekerja di rumahku tetapi dia tak bisa menabung, karena uangnya dia pinjamkan ke satpam, sebab katanya satpam tersebut butuh duit, jadi dia pulang lebaran ga bawa apa – apa .”
Saya tak mau kalah menimpali ,” Ah, pembantu jaman sekarang memang kan lebih kaya dari majikannya. Sang majikan HPnya bahkan lebih butut dari pembantunya .”
Temanku yang tadi balas menjawab,” Kamu salah Tin, kalau marahi mereka. Pembantuku yang tadi balik menasehati aku, Bu kalau orang pinjam duit berarti dia kan lebih ga punya dari saya toh… berarti mereka kan butuh uang bu, kalau saya punya kenapa nggak saya beri ?”
Temanku yang duduk di belakng balas menimpali,” Memang bener lho kalau dipikir – pikir, orang didesa yang lebih melarat dari kita lebih bisa berbagi daripada kita di kota. Coba kamu lihat mobil – mobil ini, dari tadi tak perhatikan, siapa yang lebih mudah memberi Anjal – anjal itu ? Rasanya Mercy dan BMW di sebelah kita pada gak buka kaca tuh. Malah angkot dan Pengemudi motor yang lebih mudah ngasih…”
Saya termenung…. terlintas di benak saya kisah sekolah Minggu Janda Sarfat.
Bagi orang miskin, empati untuk merasakan kesedihan dan kesusahan jauh lebih peka dibandingkan kita yang kaya dan berkecukupan. Mengapa ? Ya, sebab mereka sehari – harinya merasakan itu. Kristus mengajar kita untuk menjadi lebih peka, dalam berbagi, agar kita sedikit mau merasakan apa yang dirasakan oleh mereka yang tidak mampu. Dan Kristus tahu, kepekaan itu sulit timbul pada orang – orang yang hidup di kota seperti kita. Malah semangat gotong royong itu sungguh lebih terasa pada masyarakat pedesaan dimana mereka saling memberi dan membantu.
Ironisnya, gereja – gereja kotapun sering terimbas sikap egoisme hidup di perkotaan. Kadangkala, kita prihatin karena banyak gereja yang megah dan mentereng justru sulit untuk berbagi dan melayani gereja – gereja yang kecil dan terkucil.
Sudahkah masing – masing kita pernah mengambil peran sebagai Janda di Sarfat, dan merasakan bahwa sedikit yang kita korbankan, tetapi banyak artinya bagi orang lain ?



